MOVIE REVIEW SUKA-SUKA: Pengabdi Setan (2017)

Sebagai pembenci film horor,eike jadi agak agak tergoda nih buat nonton ini pilem…:)

Teppy and Her Other Sides

**(A little bit) of SPOILER alert**

Kalau pengen nontonnya penasaran maksimal jangan dibaca, yah.

Helau sodara-sodara sebangsa dan setanah air!

Seperti yang kalian mungkin tau (dan ikutin), sekitar sebulanan ini hype dari film “Pengabdi Setan,” sebuah remake dari film berjudul sama di tahun 1980, lagi gencar-gencarnya bergaung. Karena gue pencinta film horor dan kebetulan dulu sempet nonton film aslinya (walau lupa-lupa inget), gue jadi excited banget nunggu si film versi baru ini.

Teaser dan trailernya nampak menjanjikan dan gue inget film lamanya (pada masanya) juga serem dan malesin banget.

Ya gimana nggak males kalo waktu lo lagi tidur, jendela kamar lo diketok-ketok dari luar sama arwah ibu lo yang baru aja meninggal hari itu…

pengabdi1

atau pas buka pintu garasi, tau-tau ada tukang kebon lo mati kegantung di dalemnya…

pengabdisetan2

atau lagi tidur tenang-tenang tau-tau piano di ruang tamu lo bunyi dan pas lo liat nggak ada orang yang duduk di situ…

View original post 1,646 more words

Another untitled

Tadi sempat bengong dan kepikiran tentang sesuatu selama beberapa saat…

Tentang tragedi keluarga yg menimpa saudara dekat.

Sebelumnya jarang jarang kepikiran untuk stand still sejenak dan really really think about it.

True, what my father said, setiap kejadian disekitar kita adalah butir butir pelajaran kehidupan.

Tinggal kita bisa menangkap pelajaran itu atau hanya sekedar memandang terpana.

“Wolak waliking jaman” dan “urip kui mung sawang sinawang” bukanlah sekedar mitos.

At least dalam kehidupan saya pribadi, its so true. And i can see it crystal clear.

Only, i still doubt that im fully taking lesson from it. There’s so much part of me, that sometimes, still too lazy to learn what life has taught me.

Here’s the things that im trying to learn :

I saw someone with all his or her flaws. But i also trying not to ignore his or her good side.

I saw someone with all his or her perfection. But i also trying not to blinded myself that he or she also have their flaws.

Do not like someone too much. Nor hate someone too much.

Judge them fairly. Treat them fairly.

Dont be vocal because you have interest or expecting benefit. Be vocal because you want things goes fairly. Doesnt matter if you got misjudge or mistreat along the way.

Stand your ground.

And here i am…

Still trying to be that one..

And the list arent over yet…

Hari ini tiba tiba terasa lesu saja..

Mungkin pagi ini kurang khusyuk kau dalam berdoa….(suara satu sudut hati)

Ah…ya…mungkin itu penyebabnya.

Akhir akhir ini memang kurasa diri ini sedikit demi sedikit lupa…

dan aku takut…

Begitu banyak nikmatnya dalam bentuk bahagia yang membuatku lupa…

Dan membuatku takut terpeleset rasa sombong dan menjadi jumawa…

Lupa dengan diri ketika didera nikmat sengsara…

Ketika betapa diri ini begitu menghamba tiap hari tiap malam bersimpuh dengan air mata..

Mengapa sekarang begitu lemah hatimu untuk bersimpuh dengan air mata lagi?

Bukankah bahagia dan sengsara adalah sama sama nikmat dariNya??

A New Year

Selamat tahun baru!

Semalam terbangun oleh suara2, yang mungkin jika ini dinegara2 yg sedang terlibat perang, orang2 langsung lari mencari tempat perlindungan di bunker2.

Yup, i slept early last night. I never found new year nights is so special that we have to bersusah payah terjebak macet berjam2 untuk bisa ke suatu tempat utk merayakan tahun baru, atau berdesak2an di jalan yang saya-ngga-tau-apa-sih-faedahnya dan berakhir dengan menyumbangkan sekian persen sampah yang kita-terlalu-ngga-peduli untuk menyimpan sampah masing masing karena biasanya susah nemu tempat sampah dikeramaian.

Its just another night for me. Bedanya cuma besok libur. So i can make plan. Entah untuk umbah2, nggosoki, nguras kamar mandi atau sekedar ingin males2an di kasur sampai pusing kebanyakan tiduran.

Tapi di era sosial media seperti sekarang, dimana pelaporan aktivitas kehidupan sehari hari melalui media status wasap maupun fesbuk hampir seperti ibadah fardhu ain bagi orang2 mainstream, maka merayakan tahun baru dengan sesuatu yang instagrammable dan postingable adalah suatu keharusan.

Maka ketika saya sedang mancal kemul dan ngelap iler disela2 ngorok saya yang entah berapa desibel, beberapa orang lain sedang sibuk mengupdate status perayaan tahun baru, bahkan sebagian membuatnya hampir seperti live report gitu. Good for you people!! Sungguh suatu pencapaian yang luar biasa di penghujung tahun. Arent you so proud of yourself?? 😎 😎 😎

A new year…

For some people its a magical words. There’s actually people who live their life differently as soon as the sun rise at new year. Are you some of them too?

Tahun ini saya hanya berharap bisa berumur panjang. Bisa mengganti lagi display picture wasap. Which means you-know-who is released from jail. Tahun ini adalah tahun politik. Dan saya sungguh2 ingin melihat indonesia yang lebih bermartabat. At least at my circle of friends. Saya ingin bahwa media sosial tidak lagi menjadikan teman teman saya mengalami kebutaan. Dan membabi buta, melahap apa saja yang ditawarkan oleh media sosial dan dunia maya.

Harapan2 pribadi saya di tahun 2018 ini, detil2 tentang ini dan itu, semua bisa dirangkum menjadi seperti doa saya di setiap awal hari. Semoga hari ini, kami menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin.

Honestly, tiap hari terlintas di benak saya bahwa i can be a better person. Saya bisa melihat titik kelemahan saya, yang saya tahu bisa saya perbaiki tapi kebodohan dan kekeraskepalaan menahan saya untuk berubah. Kebodohan, kekeraskepalaan, and my stupid ego.

Anyways…sekali lagi happy new year everyone…

Semoga tahun ini, kita bisa menjadi manusia yang lebih baik dari tahun kemarin.

Ada amin temanteman??

MOVIE REVIEW SUKA-SUKA: Ayat-Ayat Cinta 2 (SPOILER SEMUA)

Ngakak sampe terkentut2…no need to see the movie. Eman2 duitnya…😆

Teppy and Her Other Sides

Selamat pagi/siang/sore/malam, teman-teman semua!

Atas dasar rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa dan tekanan yang cukup donder dari netizen, saya hadir kembali dalam Movie Review Suka-Suka untuk membahas sebuah sekuel dari film yang fenomenal pada masanya, Ayat-Ayat Cinta (keluaran tahun 2008, dulu ditonton sama hampir 3,5 juta orang), yaitu Ayat-Ayat Cinta 2 yang juga tak kalah fenomenal…

…dalam menguji akal sehat penontonnya.

Kayak gimana tuh maksudnya, Tep?

Ohohoho…

BERSIAPLAH.

weightlift

Disclaimer: ini akan jadi postingan yang panjang banget. Ngasih tau aja.

Alkisah Sabtu malam lalu, setelah sorenya giras ketawa-ketiwi kumpul sama temen-temen, gue dan Deedee lanjut nonton Ayat-Ayat Cinta 2 (AAC2) di Kemang Village. Hal ini sebenarnya udah kami rencanakan sebelum AAC2 rilis dalam rangka pengen review rame-rame secara trailernya kok kayak nggak meyakinkan. Lalu pada hari H cuma kami berdua yang bisa, ya udah tetep berangkat nontonlah gue sama Dee. Awalnya niat nonton ini dikira niat nonton yang serius sama…

View original post 3,390 more words

LGBT

Memantau timeline di medsos, kadang membuat saya ingin misuh2. Membuat saya suka jengkel karepe dewe. Membuat kadang saya berpikir, orang indonesia ini kok sebegininya sih?

Kemaren di timeline salah satu WAG saya, seseorang memposting “artikel” yang “katanya” dari seorang dokter ahli saraf di sebuah rs terkemuka di ibukota. Postingan itu berupa peringatan tentang bahaya penularan LGBT. Sounds familiar??

Dan tentu saja dengan tipikal brodkesan WAG utk konsumsi orang indonesia, yaitu dengan pilihan bahasa yang bombastis, cenderung menakut2i, yang biasa laku di grup2 wasap gitu. Yang membuat saya heran adalah isi tulisan dan diksi, tidak mencerminkan bahwa itu ditulis oleh seorang dokter ahli saraf!! Dari rs terkemuka!!

Yang saya tangkap dari artikel tersebut adalah luapan kebencian sang dokter kepada mereka yang berperilaku seks tidak seumumnya. Yang seharusnya ketika dia mengemukakan pendapat dengan konteks dia sebagai dokter, seyogianyalah bersikap netral dan melihat dari sudut pandang medis. Tidak seharusnya seorang dokter mengungkapkan, untuk konsumsi publik, bahwa dia merasa jijik dengan pasiennya. Apapun keadaannya. Lebih keterlaluan lagi ketika dia mengatakan bahwa dia ingin memberikan dosis obat tertentu kepada orang yang dibencinya agar dia mati saja!! Dokter macam apa itu???

Saya kira tidak seorangpun di dunia yg berkeinginan suatu hari anaknya menjadi LGBT. Dan saya setuju seratus persen, bahwa itu adalah suatu masalah serius yang kita harus sikapi, waspadai dan tidak bisa kita abaikan.

TAPI…

Kita tidak kemudian harus merendahkan kemampuan otak kita, sehingga kita terjerumus menyebarkan artikel2 yang tidak jelas, tidak cetho, hanya karena terpikat oleh kata2 bombastis penuh ancaman di dalamnya. We can be way more smart than that.

Saya kira sebenarnya otak kita cukup cerdas untuk memfilter, dari awal, hanya dengan melihat gaya penulisan, serta pilihan kata, untuk menentukan apakah cukup bijaksana menshare suatu artikel atau cukup untuk menjadi pengetahuan diri kita sendiri.

Tidakkah orang2 yang so easily share something yang isinya penuh nada kebencian, ancaman kekerasan itu tidak berpikir akibat2 yang bisa ditimbulkan hanya gara2 dia tidak bisa mengendalikan jempolnya?

Bagaimana jika, karena seseorang membaca artikel tersebut kemudian melakukan tindakan kekerasan kepada orang yang tidak bersalah hanya karena dia mengira bahwa seseorang itu adalah LGBT, dan bermaksud menggoda dia? Bagaimana jika kejadian itu bisa mengakibatkan kematian seseorang?

Dan tidakkan dia pernah terpikir bahwa kita tidak bisa menggeneralisasi, menggebyah uyah, bahwa semua LGBT itu adalah jahat? Tidakkah dia berpikir bahwa kehidupan orang perorang itu sedemikian beragam dan kompleksnya sehingga mungkin ada hal2 diluar kehendak seseorang sehingga dia menjadi LGBT? Tidakkah dia berpikir bahwa diantara para pelaku LGBT itu ada beberapa yang sebenarnya tersiksa dan hidup menderita, tapi hidup dan kehidupan membuatnya tidak berdaya???

Kita diajarkan untuk membenci perbuatan, bukan orangnya. Tapi apakah itu tercermin dari saran sang dokter bahwa pelaku LGBT sebaiknya dipukuli beramai ramai saja. Sungguh heran saya. Ini dokter lho. Profesi terhormat. Tidak semua orang bisa menjadi dokter.

Tidakkah cukup kekerasan dan kebodohan di kehidupan sehari hari kita, sehingga kita merelakan diri diracuni melalui brodkes di wasap? Aplikasi percakapan sejuta umat?